KUMPULAN BERITA > Kliping > Air Minum
kembali ke List Air Minum
 

  

   Link    PDF   
Sudiyanto Merakit Pompa Hydram Non BBM
Kedaulatan Rakyat - 16 Februari 2006

BERAWAL dari sebuah obsesi, Sudiyanto (39) warga Desa Kotayasa, Sumbang, Banyumas yang kepala desa (kades) setempat, berhasil mendesain pompa air tenaga air. Pompa Hydrolic Ram (Hydram) yang relatif murah tersebut kini mampu memberikan air bersih kepada 576 KK (1728 jiwa) warga RW 5. Dengan teknologi yang sederhana yang tanpa BBM, air diturunkan 7 meter dapat dipompa mencapai ketinggian 17 meter dan mengucur deras.

“Obsesi saya dari keprihatinan warga di sini yang sulit mendapatkan air bersih. Padahal di sini banyak air tetapi tempatnya rendah. Saya ingin masyarakat bisa memperoleh air bersih dengan biaya yang relatif murah,” katanya ketika ditemui KR di rumahnya, Senin (13/2).

Setelah terpilih dan diangkat menjadi Kades Kotayasa tahun 1999 lalu, suatu ketika di tahun 2000 menemukan buku tentang pompa air tenaga air. Buku itu berisi petunjuk membuat pompa air dengan teknologi dari Belanda, ditemukan pada perpustakaan LKMD. Tergerak Sudiyanto yang bapak anak 5 itu untuk mempraktikannya.

“Saya membuat 1 unit untuk keluarga sendiri. Tetapi pompa itu tidak langsung jadi. Saya menjadi semakin ‘penasaran’ bahkan kemudian pompa itu bocor. Saya biarkan, ternyata kebocoran itu malah membuat pompa lebih bertenaga dan air dapat mengalir lancar. Dari situlah saya mendapat ‘pelajaran’ yang menjadi rahasia pembuatan pompa itu,” paparnya.

Prinsip pembuatan pompa hydram itu nampak sederhana. Air dari sumbernya ditampung pada sebuah drum setinggi 7 meter. Dari drum itu melalui pipa air diturunkan masuk pompa yang diameternya seukuran pompa tangan. Dengan memanfaatkan tenaga air dan udara serta klep yang ada dipompa, air dapat naik 112 meter (vertikal 17 meter) sejauh 950 meter lebih. Sehingga dapat mensuplai air pada warga yang berada di tanah tinggi. “Sayang waktu itu terbentur dana, sehingga baru dapat membuat sebuah pompa. Biaya pembuatan mencapai Rp 7,5 juta,” ujar Sudiyanto yang lulusan Mualimin Muhammadiyah Purwokerto 1985.

Karya inovatif Sudiyanto itu membuat warga RW 05 yang terdiri 6 RT, membentuk Paguyuban Masyarakat Pendamba Air Bersih (PMPAB) yang diketuai Sigit. Mereka yang berdiam di dataran tinggi itu berupaya mengatasi kebutuhan air bersih dengan pompa hydram. “Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, kami harus berjalan kaki sejauh 1 Km, menurun dan mendaki,” kata Warsudi yang Ketua RT 03/RW 5.

Juara

Juli 2005 lalu Indonesia Daya Masyarakat sebuah LSM di Jakarta mengadakan Kompetisi Karya Inovasi. PMPAB mengikuti lomba tersebut mengajukan pompa hydram. “Informasi lomba dari Sigit, ketua paguyuban, yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Alhamdulillah kami berhasil menjadi juara, mendapat hadiah Rp 102 juta. Saya dan Sigit serta pemenang lomba lainnya juga diterima Presiden SBY di Istana Negara,” papar Sudiyanto yang pingsan ketika di hotel begitu mendengar kabar berhasil menjadi juara.

Hadiah uang tersebut kemudian digunakan untuk membangun 4 buah pompa hydram, jaringan perpipaan, bak penampung dan pembelian tanah tempat sumber mata air. Ukuran pompa standar, 4:1. Mampu menghasilkan air bersih minimal 57.600 liter per hari. Sehingga sekitar 80% dari warga RW yang sebanyak 576 KK dapat menikmati air bersih. Perhitungan kebutuhan air per orang 50 liter/hari.

“Warga hanya berswadaya tenaga saja. Kondisi sosial ekonomi mereka sebagian besar kurang mampu. Tetapi untuk pemeliharaan pompa dan jaringannya, warga iuran Rp 1.000/bulan d isamping ada uang praktik Rp 2.500. Tinggal 2 RT yang belum maksimal mendapat air bersih,” jelas Kusdiyanto.

Keberhasilan Kusdiyanto merancang pompa hiydram dan menjadi juara itu membuat datang sejumlah pesanan pengadaan air bersih. Pompa tanpa BBM ini disamping relatif murah, pemeliharaannya juga mudah. “Pompa yang pertama saya buat hingga sekarang klepnya belum ganti. Yang penting jangan kemasukan siput atau benda lain. Ini bisa diatasi dengan memasang saringan sebelum air masuk ke drum. Drum digunakan untuk mengimbangi getaran pompa. Kalau bangunan bak permanen bisa rusak,” ungkap Kusdiyanto.

Hingga kini Kusdianto sudah memasang pompa hydram untuk sebuah pondok pesantren di Genteng, Banyuwangi (Jatim). Juga di Desa Lesmana (Ajibarang), Karanggintung untuk kebutuhan pabrik mie, Purbalingga dan Batuanten (Cilongok). Pemasangan setiap unit pompa berkisar Rp 10 juta dan tergantung lokasinya.

“Ada sebuah LSM di Jakarta yang meminta saya memasang di Flores. Tetapi waktu saya terbatas, tugas dan kewajiban sebagai Kades tak bisa ditinggalkan. Sayang, saya bisa merakit pompa hydram setelah jadi Kades. Tak mengapa, karena obsesi saya bisa terlaksana,” ujarnya. (S Pamudji)-d
 
   
 
uploaded : 16-02-2006